Lewati ke konten utama

Diriset dan diperiksa faktanya melalui proses editorial J-Compass; tim editorial kami meninjau sumber dan akurasi sebelum diterbitkan. Lihat metodologi kami →
Terjemahan ini disediakan sebagai referensi untuk kemudahan Anda. Versi bahasa Inggris adalah versi yang berlaku. Baca versi asli bahasa Inggris →

Ijime (perundungan) dan kerangka penanganan sekolah

Perundungan di sekolah Jepang, いじめ (ijime, "perundungan dalam konteks sekolah Jepang"), berkisar mulai dari tindakan fisik hingga pengucilan kelompok secara diam-diam yang merupakan pola paling khas dalam sistem persekolahan setempat, dengan survei tahun fiskal 2024 mencatat lebih dari 769.000 kasus. Sejak 2013, undang-undang nasional mewajibkan setiap sekolah membentuk tim kerja tetap penanggulangan perundungan dan meneruskan penanganan kasus-kasus serius melampaui lingkup ruang kelas. Panduan ini menjelaskan kewajiban pihak sekolah, langkah eskalasi bagi orang tua, serta tantangan khusus yang kerap dihadapi keluarga warga negara asing.12

Konfirmasikan rincian terkini dengan sumber resmi

Prosedur, biaya, dan persyaratan dapat berubah sewaktu-waktu. Pastikan rincian terkini dengan dewan pendidikan kota Anda atau pihak sekolah anak Anda. Artikel ini bersifat informasi umum, bukan nasihat hukum; untuk pertanyaan mengenai perintah perlindungan atau pelaporan pidana pada kasus tertentu, konsultasikan dengan bengoshi (pengacara, 弁護士) berlisensi, dan untuk jalur sekolah konsultasikan dengan konselor sekolah atau dinas pendidikan.

Gambaran umum​

Undang-undang mendefinisikan perundungan sebagai tindakan fisik atau psikologis oleh anak yang terafiliasi dengan sekolah terhadap anak lainnya, termasuk melalui internet, yang menyebabkan rasa sakit atau penderitaan bagi korban.1 Sekolah, guru, keluarga, warga setempat, dan pemerintah memikul kewajiban hukum untuk mengatasinya secara bersama-sama.1

Survei tahun fiskal (FY) 2024 mencatat 769.022 kasus, peningkatan selama empat tahun berturut-turut, dengan 76,1% kasus berhasil diselesaikan pada akhir tahun ajaran; kasus serius mencapai rekor 1.405 kasus, dan 8 dari 413 kasus bunuh diri siswa terhubung dengan perundungan (berdasarkan survei FY2024 MEXT; konfirmasikan data terkini ke MEXT).2 Peningkatan angka ini mencerminkan tingginya kesadaran pelaporan selain kejadian nyata di lapangan, sehingga mekanisme respons sekolah menjadi jauh lebih penting dibandingkan sekadar angka statistik.

Bentuk nyata ijime​

Ijime di Jepang mencakup pola universal berupa kekerasan fisik dan verbal, ditambah bentuk-bentuk yang terbentuk oleh homogenitas kelas: シカト (shikato, "pengucilan, aksi pengabaian terencana"), isolasi sosial, serta sesekali tindak kekerasan fisik. Studi perbandingan mengidentifikasi ruang kelas di Jepang sebagai lingkungan pergaulan yang stabil dan tertutup, sehingga anak yang dianggap berbeda rentan menghadapi risiko pengucilan.3

Skala berdasarkan data survei​

Di luar angka utama, FY2024 mencatat 128.859 kasus kekerasan, yang juga merupakan rekor tertinggi (berdasarkan survei FY2024 MEXT; konfirmasikan angka terkini dengan MEXT).2 Angka-angka ini membentuk satu asumsi dasar penting: tidak ada satu pun sekolah yang dapat secara kredibel mengklaim bahwa perundungan tidak pernah terjadi di tempat mereka, sehingga setiap orang tua perlu memahami jalur eskalasi sebelum benar-benar membutuhkannya.

Laporkan secara tertulis dan simpan salinannya sejak pertemuan awal

Kasus terdokumentasi di Osaka memperlihatkan sebuah sekolah yang mengabaikan permohonan orang tua tanpa pendekatan sistematis, yang memperpanjang derita anak. Laporan tertulis yang bertanggal disertai salinan arsip mengubah sekadar keluhan lisan menjadi berkas resmi yang wajib ditanggapi oleh sistem.4

Kerangka penanganan tahun 2013​

Undang-Undang Promosi Langkah-Langkah Pencegahan Perundungan (UU No. 71 Tahun 2013) meletakkan kewajiban pencegahan, deteksi dini, dan respons penanganan kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah, badan penyelenggara sekolah, pihak sekolah, dan para guru.1 Anak-anak dilarang merundung sesamanya; kaum dewasa wajib menyusun struktur penanganan bersama.1

Organisasi wajib di lingkungan sekolah​

Setiap sekolah diwajibkan memiliki organisasi tetap sebagai pusat penanggulangan perundungan, dengan melibatkan tenaga profesional eksternal seperti pengacara, dokter, atau purnawirawan kepolisian sesuai kebutuhan.5 Indikasi awal, kecurigaan, dan konsultasi wajib diteruskan ke tim kerja ini daripada ditangani oleh masing-masing guru secara perorangan, dan seluruh penanganan dijalankan melalui badan tersebut.5

Sebutkan tim kerja anti-perundungan sekolah, jangan hanya guru kelas

Guru wali kelas (tannin) adalah kontak pertama, tetapi undang-undang mengarahkan kasus ke badan tetap sekolah. Tanyakan keberadaan organisasi ini secara eksplisit dan pastikan laporan Anda telah tercatat di sana.5

Tangga eskalasi penanganan​

Tangga eskalasi berjalan dari respons pertama guru wali kelas menuju eskalasi kepala sekolah, lalu ke keterlibatan dewan pendidikan dan pemerintah kota untuk kasus yang serius, dengan selalu mengikutsertakan konsultasi keluarga sepanjang proses.15 Kasus yang memenuhi kriteria 重大事態 (jūdai jitai, "situasi serius yang memicu investigasi formal") mengaktifkan mekanisme penyelidikan resmi dengan keanggotaan pihak eksternal independen.15

Komite pihak ketiga dapat meninjau penanganan sekolah di kemudian hari. Dalam kasus di Osaka, komite resmi mengakui terjadinya perundungan diskriminatif yang berkepanjangan, menyalahkan respons sekolah yang tidak sistematis, dan secara terpisah menilai kasus tersebut berada di bawah ambang batas situasi serius.4 Tinjauan eksternal dan ambang batas formal merupakan mekanisme penanganan yang berbeda; sebuah keluarga mungkin membutuhkan keduanya.

Pusat konsultasi pendidikan Tokyo menyediakan saluran siaga perundungan gratis 24 jam di nomor 0120-53-8288 dalam bahasa Jepang, dilengkapi bantuan penerjemah pada Jumat siang untuk konsultasi siswa asing (layanan tetap; pastikan jam operasional ke pihak pusat).6 Saluran telepon eksternal ini menciptakan rekam jejak paralel jika jalur komunikasi internal sekolah terhenti.

Kerentanan keluarga warga negara asing​

Secara prinsip kerangka penanganannya sama, tetapi kendala bahasa dan budaya mempersulit interaksi efektif orang tua dengan pihak sekolah.7 Kalimat ini bahkan belum menggambarkan kesenjangan nyata di lapangan secara menyeluruh.

Kesenjangan yang terdokumentasi​

Sebuah survei tahun 2024 mendapati bahwa 68% dari 448 responden berlatar belakang blasteran (multi-etnis) pernah mengalami perundungan atau diskriminasi (berdasarkan survei 2024; konfirmasikan data riset terkait).8 Riset kualitatif mencatat ejekan sebagai "gaijin" (orang asing) menjadi motif siswa pindah ke sekolah internasional, serta menempatkan hubungan teman sebaya dan ketiadaan teman sebagai salah satu alasan utama anak asing mogok sekolah.7

Kasus di Osaka memperjelas fenomena ini. Seorang siswa kelas lima yang ayahnya berkewarganegaraan asing diteriaki "pulang sana," dipanggil "orang asing" hingga kelas enam, dan menulis keinginan untuk mati dalam draf karangan kelulusan yang justru dicoret guru dengan tanda silang (X) besar disertai perintah menulis ulang.4 Komite resmi mengakui adanya perundungan selama kurun 2019–2020 dan menetapkan respons sekolah tidak memadai.4

Bagi keluarga asing, tiga hambatan bertumpuk: anak mungkin lebih cepat disasar karena tampak berbeda, orang tua mungkin terkendala bahasa untuk mendesak sekolah, dan pihak sekolah mungkin kurang berpengalaman menangani pola diskriminasi semacam ini. Menunjuk pendamping bilingual sejak dini (konselor, relawan LSM/NPO, atau guru yang dapat dipercaya) adalah bentuk kehati-hatian yang matang, bukan sikap pesimistis.

Ketika perundungan masuk ke ranah hukum​

Bagian ini memaparkan prosedur formal. Bagian ini bukan saran hukum perorangan; untuk kasus spesifik, konsultasikan dengan bengoshi berlisensi.

Kolaborasi kepolisian dan aduan tindak pidana​

Jika sebuah kasus terindikasi sebagai tindak pidana, pihak sekolah wajib bertindak bekerja sama dengan kantor kepolisian terkait.1 Jika nyawa, fisik, atau properti terancam bahaya nyata, ketentuan penanganan situasi serius berdasarkan undang-undang mulai berlaku.1 Kewajiban kerja sama pihak sekolah ini berjalan berdampingan dengan hak mandiri pihak keluarga untuk mengajukan aduan atau laporan tindak pidana (keisatsu he no kokuso) akibat perundungan fisik parah; satu jalur tidak membatalkan jalur lainnya.

Dapatkan nasihat hukum sebelum mengajukan dugaan tindak pidana, bukan sesudahnya

Seorang pengacara (bengoshi, 弁護士) dapat merumuskan bukti apa saja yang dibutuhkan polisi dan apa saja yang wajib dilakukan sekolah secara prosedural. Laporan yang diajukan tanpa pendampingan hukum lebih sulit diarahkan setelah berkas masuk.

Perintah perlindungan dan konsultasi pengacara (bengoshi)​

Dalam situasi yang ekstrem, pihak keluarga dapat mengupayakan perintah perlindungan melalui pengadilan keluarga. Jalur ini ditempuh melalui kuasa hukum, bukan melalui pihak sekolah.

Ketersediaan dan bentuk perlindungan hukum bergantung pada fakta perkara yang hanya dapat dinilai oleh pengacara. Untuk jalur sekolah (konseling, tindakan pengamanan kelas, pelaporan ke dinas), tujuannya adalah konselor sekolah dan dewan pendidikan. Untuk jalur peradilan (perintah perlindungan, aduan pidana), saran harus datang dari bengoshi.

Keterkaitan dengan futoko​

不登校 (futōkō, "penolakan sekolah atau ketidakhadiran 30 hari atau lebih bukan karena sakit atau masalah ekonomi") akibat perundungan merupakan fenomena besar di sekolah negeri Jepang.9 Angka putus hadir sekolah pada FY2024 mencapai 353.970 siswa, rekor tertinggi selama dua belas tahun berturut-turut, dengan faktor pemicu utama mencakup rendahnya motivasi, masalah relasi pertemanan, dan gangguan ritme hidup (berdasarkan survei FY2024 MEXT; konfirmasikan angka terkini dengan MEXT).2

Pilihan setelah anak berhenti hadir ke sekolah meliputi konseling sekolah, pembelajaran mandiri di rumah, serta sekolah alternatif (free schools) yang beroperasi atas dasar prinsip kebebasan dan individualitas sejak era 1980-an.9 Sikap sosial telah bergeser dari pandangan era pra-1992 yang menganggapnya sebagai penyakit mental, menjadi istilah netral futoko yang diadopsi resmi sejak 1997.9

Bersiaplah membahas opsi futoko sebelum situasinya mendesak

Penempatan konseling, pendaftaran free school, dan penyesuaian belajar di rumah memerlukan waktu beberapa minggu untuk disiapkan. Mengetahui opsi-opsi ini saat anak masih bersekolah jauh lebih baik daripada pendaftaran darurat setelah anak mogok sekolah sepenuhnya.9

Hal yang perlu diketahui​

Buat laporan secara tertulis dan simpan salinan sejak pertemuan pertama​

Laporan lisan mudah terlupakan; salinan tertulis yang bertanggal akan menjadi bukti kuat. Catat setiap pertemuan, setiap janji dari pihak sekolah, dan setiap tenggat waktu di atas kertas yang Anda simpan di rumah.4

Sebutkan nama organisasi anti-perundungan sekolah, bukan hanya guru pengajar​

Guru perorangan bisa saja berganti tugas, dimutasi, atau lupa. Organisasi tim kerja sekolah bersifat tetap, dan undang-undang mewajibkan kasus perundungan ditangani oleh badan tersebut.5

Manfaatkan saluran siaga 24 jam jika penanganan pihak sekolah tersendat​

Saluran siaga Tokyo di nomor 0120-53-8288 beroperasi bebas pulsa 24 jam dalam bahasa Jepang (layanan tetap; pastikan jam operasional pada pihak dinas). Di luar jam kerja atau saat sekolah terkesan lambat bertindak, saluran ini adalah opsi tercepat untuk membuat rekam jejak laporan resmi.6

Bersiap untuk pembahasan futoko sebelum situasinya menjadi mendesak​

Ketahui narahubung konseling terdekat dan satu opsi sekolah alternatif (free school). Jika kehadiran anak mulai terganggu, keluarga dapat langsung bertindak alih-alih panik mencari jalan keluar.9

Dapatkan nasihat hukum sebelum mengajukan dugaan pidana, bukan sesudahnya​

Konsultasikan dengan bengoshi terlebih dahulu jika terjadi cedera fisik atau ancaman nyata. Kepatuhan prosedur formal akan melindungi keluarga yang melangkah dengan persiapan matang.

Lihat pula​

References​

Footnotes​

  1. Japanese Law Translation. "Act for the Promotion of Measures to Prevent Bullying (Act No. 71 of June 28, 2013)." https://www.japaneselawtranslation.go.jp/en/laws/view/3748/en (translated 2021-03-09) ↩ ↩2 ↩3 ↩4 ↩5 ↩6 ↩7 ↩8 ↩9

  2. The Japan Times. "Elementary and junior high schools see record nonattendance figure." https://www.japantimes.co.jp/news/2025/10/29/japan/record-students-refuse-school (published 2025-10-30; MEXT FY2024 survey) ↩ ↩2 ↩3 ↩4

  3. PMC. "Differences in the Role of Friendships and the School Class in Children's Perceptions of Bullying in England and Ijime in Japan." https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8346116 (expanding Kanetsuna 2009) ↩

  4. The Mainichi. "'Foreigners are disgusting': Osaka school rapped over response to student's bullying." https://mainichi.jp/english/articles/20230727/p2a/00m/0na/004000c (published 2023-07-27) ↩ ↩2 ↩3 ↩4 ↩5

  5. MEXT. "Basic Policies for the Prevention, etc. of Bullying (Outline)." https://www.mext.go.jp/en/policy/education/elsec/title02/detail02/__icsFiles/afieldfile/2020/06/22/20200622-mxt_kouhou02-01.pdf (2020) ↩ ↩2 ↩3 ↩4 ↩5 ↩6

  6. Tokyo Metropolitan Government. "Enrollment in Public Elementary and Junior High Schools." https://www.english.metro.tokyo.lg.jp/w/031-101-003827 (posted 2024-12-02; consultation-center section) ↩ ↩2

  7. PMC. "Difficulties in Adapting at School Among Nepalese Immigrant Children in Japan." https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10161289 (2023; cites Yamamoto 2014, Nae 2022) ↩ ↩2

  8. The Asahi Shimbun. "Survey: 68% of multi-racial students in Japan bullied." https://www.asahi.com/ajw/articles/15423028 (published 2024-09-11) ↩

  9. BBC. "Why so many Japanese children refuse to go to school." https://www.bbc.com/news/world-asia-50693777 (published 2019-12-23) ↩ ↩2 ↩3 ↩4 ↩5