Diriset dan diperiksa faktanya melalui proses editorial J-Compass; tim editorial kami meninjau sumber dan akurasi sebelum diterbitkan. Lihat metodologi kami →
Terjemahan ini disediakan sebagai referensi untuk kemudahan Anda. Versi bahasa Inggris adalah versi yang berlaku. Baca versi asli bahasa Inggris →
Tempat kerja sebagai sarana menjalin pertemanan
Tempat kerja sebagai sarana menjalin pertemanan berarti bahwa pekerjaan kantoran di Jepang sekaligus berfungsi sebagai sarana paling andal untuk bertemu calon sahabat karib melalui kontak yang terulang setiap hari dengan rekan kerja yang sama.1 Bagi pekerja warga negara asing yang berinteraksi tatap muka secara rutin, pengulangan kontak harian tersebut jauh lebih berpengaruh daripada satu malam pesta kumpul-kumpul semata.
Prosedur, biaya, dan persyaratan dapat berubah sewaktu-waktu. Konfirmasikan perincian terbaru pada laporan Nippon.com dan laman berita The Asahi Shimbun yang mengutip penerbit survei asli (Tokyo Shoko Research, Nippon Life, dan Badan Pajak Nasional).
Gambaran umum
Tempat kerja di Jepang membangun pertemanan melalui kebersamaan yang berulang: acara minum sepulang kerja, makan siang rutin, kelompok lingkaran minat di perusahaan, serta acara musiman atau tamasya akhir pekan.12 Interaksi awal biasanya bersifat umum, kemudian secara bertahap mendalam selama berbulan-bulan menjadi ikatan pribadi yang kuat.
Saluran ini sangat cocok bagi karyawan yang bertemu muka setiap hari di kantor. Pekerja jarak jauh (remote) atau sistem hibrida kehilangan kemudahan interaksi tatap muka harian sehingga harus secara sadar menciptakan interaksi berulang mereka sendiri.1
Budaya perusahaan sangat memengaruhi efektivitas saluran ini. Sebagian perusahaan secara aktif mendorong kebersamaan melalui acara dan klub minat, sementara perusahaan lainnya bersikap kaku dan hanya berfokus pada pekerjaan dengan sedikit ruang untuk interaksi santai.2 Artikel ini memaparkan pola umum secara nasional serta menguraikan perbedaan jenis perusahaan pada bagian yang relevan.
Cara pertemanan terbentuk di tempat kerja Jepang
Acara minum bersama sepulang kerja (Nomikai)
飲み会 (nomikai, "acara minum-minum santai") adalah acara kumpul-kumpul sepulang kerja antarrekan sejawat, biasanya bertempat di izakaya, restoran, atau ruang karaoke.34 Rekan kerja makan, minum, dan berbincang santai di luar batas formalitas kantor.
Istilah 飲みニケーション (nominikēshon, "membangun kedekatan melalui minum santai plus komunikasi") merangkum gagasan di baliknya: alkohol dipercaya mencairkan sekat sosial sehingga rekan kerja dapat berbicara lebih jujur daripada saat berada di balik meja kerja.53 Budaya nomikai berakar kuat selama era pertumbuhan ekonomi tinggi pascaperang pada dasawarsa 1950-an dan 1960-an, dan istilah nominikēshon mulai populer digunakan di media massa pada dasawarsa 1980-an.53
Malam acara memiliki suasana pergaulannya sendiri. 本音 (honne, "perasaan dan pandangan sesungguhnya") mengemuka di tempat yang biasanya dikendalikan oleh 建前 (tatemae, "sikap formal di depan umum"), sehingga obrolan mengenai hobi, rencana akhir pekan, dan keluh kesah semangat kerja terungkap di meja makan.3 Survei Job Soken tahun 2024 menemukan bahwa alasan utama para pekerja ingin hadir adalah untuk mempererat pertemanan dengan rekan kerja, berbincang langsung secara tatap muka, dan mendekatkan diri dengan atasan (per survei 2024, dilaporkan 20 Juni 2025; konfirmasikan kecenderungan terkini dengan Job Soken).5
Pesanlah minuman non-alkohol, ikuti seruan kanpai pembuka, tuangkan minuman untuk rekan di sebelah Anda, dan tetaplah aktif dalam percakapan. Kehadiran fisik Anda menunjukkan rasa kebersamaan tim jauh lebih kuat daripada meminum alkohol itu sendiri.3
Makan siang bersama dan interaksi harian
Makan siang mingguan yang rutin bersama satu atau dua rekan kerja membawa dampak lebih besar dalam sebulan daripada satu kali acara jalan-jalan besar.1 Proyek bersama dengan target yang sama juga merekatkan hubungan antarindividu lebih cepat daripada sekadar basa-basi santai.
Kunci utamanya terletak pada kedekatan fisik setiap hari dengan orang yang sama. Ketika kedekatan ini hilang dalam lingkungan kerja jarak jauh, peralihan dari kenalan menjadi teman akrab akan terhambat dan perlu dibangun kembali melalui komitmen jadwal berulang secara sengaja.1
Salah satu faktor pemercepatnya adalah sosok penghubung (bridge person). Seorang mentor atau rekan lokal yang bersedia memperkenalkan Anda ke berbagai lingkaran pergaulan akan membuka pintu pertemanan jauh lebih cepat daripada mendekati orang baru sendirian.1
Lingkaran hobi dan kegiatan klub
Klub perusahaan untuk minat olahraga, musik, atau kuliner jamak ditemukan di korporasi besar Jepang dan mempertemukan karyawan dengan rekan-rekan di luar departemen mereka sendiri.2 Formatnya lebih santai daripada kegiatan ekstrakurikuler sekolah 部活 (bukatsu, "kegiatan klub sekolah"), dan kelompok minat orang dewasa ini kerap disebut サークル (sākuru, "lingkaran minat/hobi").
Banyak klub minat yang hanya tercatat di atas kertas namun terbengkalai tanpa aktivitas hingga ada anggota yang menghidupkannya kembali.2 Seorang pekerja teknologi menceritakan pengalamannya mengusulkan agenda berkunjung ke museum di kanal komunikasi internal perusahaan, yang menarik minat lima orang rekan kerja, hingga akhirnya berlanjut menjadi acara rutin menonton film dan sesi bermain game yang memperluas pergaulannya lintas divisi dengan mudah.2
Pilihlah klub yang paling mendekati minat sejati Anda, usulkan satu kegiatan dengan tanggal pasti, dan jalankan pertemuannya. Penyelenggara acara biasanya mengenal lebih banyak orang daripada peserta biasa, dan peran tersebut secara alami menciptakan interaksi berulang.2
Namun, ada batas wajar yang perlu diperhatikan. Mengisi setiap malam dan akhir pekan hanya dengan rekan kerja dari lingkaran kantor dapat mengaburkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta membuat topik pembicaraan kembali berpusat pada masalah kantor.2
Acara akhir pekan di luar kantor dan agenda musiman
Kalender kegiatan kantor berjalan mengikuti agenda rutin tahunan. Acara akhir tahun 忘年会 (bōnenkai, "pesta melupakan tahun lama") berlangsung pada bulan Desember, disusul acara tahun baru 新年会 (shinnenkai, "pesta menyambut tahun baru") pada pertengahan Januari.6 Momen penting divisi dirayakan dengan 歓迎会 (kangeikai, "pesta penyambutan rekan baru"), 送別会 (sōbetsukai, "pesta perpisahan rekan kerja"), dan 打ち上げ (uchiage, "syukuran penyelesaian proyek"), dengan tradisi piknik musim semi 花見 (hanami, "pesta menikmati mekarnya bunga sakura") sebagai agenda luar ruang klasik.63
Di perusahaan berskala besar, pesta musiman sering kali dipecah per departemen daripada mengumpulkan seluruh karyawan sekaligus.46 Karyawan yang baru bergabung kerap ditugaskan sebagai panitia acara akhir tahun, dan pendatang baru di pesta penyambutan perlu memperhatikan etika duduk dan menuangkan minuman dengan mendahulukan rekan senior.6
Format kegiatan akhir pekan yang lazim dalam saluran ini meliputi bermain golf, mendaki gunung, dan bermain bisbol bersama di samping pesta musiman. Ini merupakan contoh umum yang sering ditemui dan bukan urutan peringkat resmi, mengingat belum ada survei khusus yang memeringkatkan format kegiatan akhir pekan kantor.
Malam acara nomikai terbagi ke dalam beberapa sesi bertahap. Acara kumpul utama dapat berlanjut ke 二次会 (nijikai, "pesta putaran kedua") di bar atau tempat karaoke, dan adakalanya diteruskan ke 三次会 (sanjikai, "pesta putaran ketiga").4 Kehadiran pada putaran-putaran lanjutan bersifat sukarela dan umumnya hanya diikuti oleh kelompok kecil yang ingin melanjutkan obrolan.
Alur jalannya malam perayaan biasanya berlangsung sebagai berikut.
Dari rekan kerja menjadi teman: Proses perkembangan bertahap
Berbulan-bulan interaksi bersama sebelum terjalin kedekatan
Percakapan di masa awal umumnya bersifat umum: pekerjaan kantor, daerah asal, dan kegiatan akhir pekan.1 Topik pembicaraan yang lebih pribadi baru hadir belakangan, setelah pertemuan yang berulang kali membangun fondasi rasa saling percaya.
Prinsip yang mendasari proses ini adalah timbal balik (resiprositas). Sesuaikan tingkat keterbukaan Anda dengan keterbukaan yang ditunjukkan lawan bicara alih-alih terburu-buru menceritakan hal pribadi, dan pahamilah kelambatan tersebut sebagai pengaturan tempo yang sopan, bukan tanda penolakan.1 Sikap sopan memang belum tentu berarti keakraban sejati, tetapi hal itu sama sekali bukan tembok pemisah.
Perbedaan lingkungan kerja menunjukkan betapa konteks sangat memengaruhi kecepatan terbentuknya relasi. Pengalaman di dinas balai kota tradisional menggambarkan hubungan kerja yang ramah di tengah perbedaan usia 20 hingga 30 tahun, namun tidak pernah berlanjut menjadi pertemanan di luar kantor pada malam hari atau akhir pekan.2 Sebaliknya, pengalaman penulis yang sama saat berpindah ke perusahaan teknologi menunjukkan pembentukan keakraban yang sangat cepat melalui makan siang, pesta kumpul, dan klub hobi.2
Alur perkembangan relasi tersebut tampak seperti berikut.
Jembatan bahasa dan budaya
Masyarakat Jepang sebagian besar berkomunikasi dalam satu bahasa (monolingual). Oleh karena itu, sebelum kemampuan bahasa Jepang pekerja asing atau kemampuan bahasa Inggris rekan lokal mencukupi, percakapan cenderung tertahan pada topik-topik dangkal lebih lama daripada yang diharapkan kedua belah pihak.1 Kemampuan dasar bahasa Jepang sekalipun akan memperluas dan memperdalam pergaulan secara signifikan, kendati kehidupan sosial berbahasa Inggris melalui komunitas internasional serta kantor ramah bahasa asing tetap terbuka lebar.1
Kesopanan sehari-hari menyingkirkan gesekan sosial: terbiasa mengucap terima kasih dan maaf, tertib mengantre, serta menjaga ketenangan suara di dalam kereta.1 Gaya komunikasi tidak langsung patut dipahami dengan penuh toleransi daripada ditafsirkan secara harfiah, dan upaya penyesuaian yang Anda tunjukkan akan dinilai sebagai bentuk penghormatan.
Langkah praktis yang berharga adalah konsistensi kehadiran. Bergabunglah dalam bersulang (kanpai) dengan teh jika Anda tidak minum alkohol, tuangkan minuman ke cawan rekan di samping Anda, dan tetaplah terlibat aktif dalam obrolan hangat.3
Berapa banyak pertemanan yang realistis diharapkan
Perkembangan umum selama masa kerja
Bersiaplah untuk menjalin sejumlah kecil ikatan yang mendalam daripada lingkaran pergaulan yang luas. Pola perkiraan umum yang digunakan dalam artikel ini berkisar antara 2 hingga 5 pertemanan orang Jepang yang langgeng sepanjang masa kerja di perusahaan Jepang, dan bisa bertambah jika aktif bersosialisasi atau berkurang jika menarik diri dari kegiatan di luar jam kerja.
Angka tersebut merupakan pola kecenderungan terarah dan bukan angka sensus pasti, sehingga gunakanlah sebagai patokan untuk dinilai sesuai dinamika tempat kerja Anda masing-masing. Gambaran kualitatif dari para praktisi menunjukkan hal yang konsisten: begitu terbentuk, pertemanan ini biasanya sangat setia dan bertahan lama, dan awal yang lambat mencerminkan besarnya investasi waktu yang dicurahkan, bukan karena ketiadaan kehangatan.21
Faktor yang menambah atau mengurangi jumlah pertemanan
Kehadiran aktif memperbesar peluang berteman. Ikut serta dalam nomikai, makan siang bersama secara rutin, keanggotaan klub minat, dan acara di luar kantor masing-masing menambah kesempatan berinteraksi berulang dengan orang yang sama.21
Mengambil inisiatif akan memperluas peluang lebih jauh. Mengusulkan suatu kegiatan dengan jadwal tertentu, menghidupkan kembali klub minat yang terbengkalai, atau menjadwalkan makan malam tim rutin akan membuka jejaring di luar divisi Anda sendiri.2
Menjaga jarak fisik akan memperkecil peluang. Melewatkan semua acara kumpul malam akan membuat relasi tetap ramah namun dangkal.1 Di sisi lain, pergaulan yang hanya berpusat pada rekan kantor juga memiliki dampak negatif tersendiri, sehingga seimbangkanlah lingkaran kantor dengan setidaknya satu komunitas hobi atau kursus di luar pekerjaan.2
Penyusutan saluran interaksi pasca-2020
Temuan dari hasil survei
Pandemi COVID-19 sempat menyusutkan saluran interaksi ini dan hingga kini baru pulih sebagian. Survei Tokyo Shoko Research tahun 2024 menunjukkan bahwa 59,6% perusahaan mengadakan pesta akhir tahun atau tahun baru, angka yang masih hampir 20 poin persentase di bawah tingkat pra-COVID tahun 2019 (per survei 2024; konfirmasikan perincian angka terkini dengan Tokyo Shoko Research).5
Survei berkala yang sama pada Oktober 2023 (n=4.747 perusahaan) mencatat 54,4% perusahaan merencanakan pesta akhir tahun atau tahun baru, sementara 21,8% yang dulunya rutin mengadakan sebelum pandemi memutuskan untuk tidak menyelenggarakannya pada tahun itu (per Oktober 2023).7 Alasan utamanya adalah rendahnya permintaan karyawan sebesar 53,8% serta keengganan karyawan untuk hadir sebesar 42,2% (per Oktober 2023).7
Sikap para pekerja bergeser ke arah yang serupa. Survei suasana tempat kerja oleh Nippon Life (n=11.377) menemukan bahwa 56,4% responden menilai budaya nominikēshon tidak diperlukan, naik dari 55,2% pada tahun sebelumnya dan 54,4% pada dua tahun sebelumnya (per survei 2024).8 Dalam survei yang sama, 70,2% responden menyatakan enggan bekerja di perusahaan yang mewajibkan tradisi nominikēshon (per survei 2024).8
Perbedaan berdasarkan gender tampak cukup tajam: 52,1% pria menganggapnya perlu berbanding 47,9% yang menganggapnya tidak perlu, sedangkan di kalangan wanita hanya 34,3% yang menganggapnya perlu berbanding 65,5% yang menolaknya (per survei 2024).8 Berdasarkan kelompok usia, mayoritas di semua rentang usia menilainya tidak perlu, mulai dari 55,7% pada usia 20-an hingga 59,8% pada usia 70-an (per survei 2024).8
Alasan utama keengganan hadir adalah keharusan untuk terus bersikap hati-hati dan menjaga suasana (48,3%), terasa seperti jam lembur kerja (33,7%), serta tidak menyukai minuman beralkohol (28,8%). Kendati demikian, 87,2% responden tetap memandang komunikasi tatap muka sangat diperlukan demi kelancaran pekerjaan (per survei 2024).8
Satu hal yang tampak bertentangan perlu dicermati secara saksama. Survei Job Soken tahun 2024 menemukan bahwa 68,8% pekerja berusia 20-an ingin menghadiri pesta akhir tahun, jauh lebih tinggi daripada usia 40-an (51,9%) dan usia 50-an (40,3%), dengan hasil survei Daikokuya tahun 2023 yang juga menunjukkan antusiasme generasi muda (per survei 2024 dan 2023).5 Menyukai suatu pesta dan menganggapnya sebagai kewajiban adalah dua hal yang berbeda, sehingga kedua temuan ini sama-sama valid: pekerja muda menikmati acara kumpul santai asalkan tidak dibebani oleh kerangka kewajiban formal yang menekan.
Konsumsi minuman beralkohol sendiri terus menurun. Konsumsi alkohol per kapita tercatat sebesar 75,4 liter pada tahun fiskal 2022, turun 25% dibandingkan tiga dekade sebelumnya (per tahun fiskal 2022; konfirmasikan perincian angka terkini dengan Badan Pajak Nasional Jepang).5
| Hal | Rincian | Per tanggal | Catatan |
|---|---|---|---|
| Rata-rata iuran nomikai izakaya standar per orang | 3.000–5.000 yen | Halaman 2026-03-043 | Nominal tetap yang ditarik panitia; pesta akhir tahun bisa lebih tinggi |
| Biaya rata-rata pesta minum kantor per acara | 4.237 yen | Survei 20235 | Rata-rata survei Daikokuya |
| Rata-rata frekuensi pesta minum kantor per tahun | 17 kali per tahun | Survei 20235 | Rata-rata survei Daikokuya |
| Estimasi pengeluaran bulanan pesta kantor | 6.002 yen per bulan | Survei 20235 | Hasil kalkulasi ekuivalen bulanan dari data di atas |
Tabel di atas mengacu pada data tahun survei terkait dan bukan harga pasar saat ini, dengan setiap baris mencantumkan waktu rujukan (data per 2023 dan 4 Maret 2026; konfirmasikan angka terkini dengan penerbit rujukan terkait). Kenaikan harga kebutuhan hidup sejak 2024 menjadi alasan tambahan bagi sebagian pekerja untuk menahan diri dari pesta di luar.5
Hal yang masih efektif saat ini
Para pemberi kerja tetap membutuhkan fungsi kebersamaan ini kendati format acaranya kian menyusut. Survei Lembaga Riset SDM (HR Research Institute) menunjukkan sekitar 60% perusahaan melaporkan adanya kendala komunikasi internal, dengan mengadakan atau memberikan subsidi acara makan dan minum bersama sebagai solusi yang paling banyak dipilih (per survei yang dilaporkan 20 Juni 2025; konfirmasikan angka terkini dengan lembaga riset terkait).5
Format yang paling berhasil saat ini adalah acara yang berskala lebih kecil dan sepenuhnya sukarela. Acara siang hari atau yang berakhir lebih awal, lokasi yang mengutamakan santapan seperti kafe atau restoran keluarga, serta tersedianya pilihan menu non-alkohol kini hadir berdampingan dengan pesta izakaya klasik.3 Salah satu contoh nyata adalah format bar smart-drinking yang menawarkan variasi kadar alkohol 0%, 0,5%, dan 3% sejak tahun 2022 (per peluncuran 2022, dilaporkan 20 Juni 2025).5
Kesadaran akan kesehatan dan pencegahan pelecehan memperkuat pergeseran ini. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan menerbitkan panduan kesehatan terkait konsumsi alkohol pertamanya pada Februari 2024, dan survei Persol menemukan bahwa hampir 80% responden memandang kritikan atas ketidakhadiran atau keengganan menuangkan minuman sebagai bentuk pelecehan (per panduan Februari 2024 dan laporan survei 20 Juni 2025).5
Perlakukan undangan sebagai acara yang benar-benar opsional, hadirlah pada acara yang bernilai penting bagi tim, dan tawarkan alternatif makan siang atau kegiatan siang hari jika acara malam hari tidak memungkinkan. Jalur ini tetap memberikan manfaat bagi yang hadir, tetapi tidak lagi serta-merta menghukum setiap ketidakhadiran.53
Perusahaan Jepang vs multinasional asing
Perusahaan tradisional Jepang cenderung membangun relasi secara lambat namun mendalam. Etika hierarki dan rasa hormat mewarnai sepanjang acara: junior menuangkan minuman untuk senior, posisi gelas diturunkan sedikit saat bersulang dengan atasan, dan urutan tempat duduk mengikuti senioritas.3 Rangkaian ritual musiman dan interaksi berbulan-bulan mendahului lahirnya keakraban pribadi.1
Perusahaan multinasional asing di Jepang cenderung memiliki struktur lebih datar dan mencair lebih cepat. Keberagaman kewarganegaraan, norma santai, makan siang bersama yang fleksibel, dan agenda team-building mempermudah inisiatif berbaur dan mempercepat keakraban.2 Kecepatan ini sangat membantu adaptasi awal seorang ekspatriat setelah sebelumnya bekerja di instansi tradisional yang kaku.
Namun saluran yang serbacepat ini memiliki risikonya sendiri. Ketika hampir semua teman Anda adalah rekan kerja sekantor, batasan pribadi menjadi kabur dan topik percakapan selalu berputar kembali ke urusan kantor.2 Manfaatkan pergaulan di perusahaan multinasional untuk adaptasi awal yang cepat, gunakan lingkungan perusahaan Jepang untuk membangun ikatan masa kerja yang kokoh, dan jagalah setidaknya satu komunitas pertemanan di luar lingkungan kerja pada situasi mana pun.21
Perbandingan ini merupakan gambaran kecenderungan umum berdasarkan penuturan para praktisi, bukan aturan kaku antarperusahaan, sehingga gunakanlah sebagai wawasan orientasi semata.
Hal yang perlu diketahui
Menolak ajakan tanpa menutup pintu relasi
Kehadiran nomikai secara formal bersifat sukarela, bukan kewajiban kontrak kerja.4 Meskipun demikian, penolakan yang terus-menerus pada bulan-bulan pertama akan menutup saluran pertemanan sebelum sempat berkembang.
Tolaklah sesekali dengan alasan yang masuk akal seperti adanya janji lain yang sudah dibuat sebelumnya atau harus bangun sangat pagi keesokan harinya, daripada membiasakan diri selalu menolak.3 Simpan komitmen kehadiran Anda untuk acara-acara yang paling berarti: perayaan tonggak pencapaian tim, pesta musiman, dan pertemuan apa pun di mana ketidakhadiran Anda akan sangat terasa.
Pesta penyambutan atau perpisahan utama yang tidak boleh dilewatkan
Acara 歓迎会 (kangeikai, "pesta penyambutan") untuk menyambut diri Anda sendiri adalah satu acara di mana ketidakhadiran akan dinilai sangat tidak sopan.3 Hadirlah tepat waktu, sapalah semua orang dengan hangat, dan sampaikan terima kasih kepada penyelenggara di akhir acara.
Bobot penting yang sama berlaku untuk acara 送別会 (sōbetsukai, "pesta perpisahan") rekan kerja dekat.6 Pertemuan minum rutin memaklumi ketidakhadiran, tetapi pesta tonggak sejarah tim semacam ini menuntut kehadiran Anda.
Pembagian biaya dan putaran kedua
Sebagian besar nomikai membagi rata biaya tagihan (warikan) tanpa memandang seberapa banyak makanan atau minuman yang dikonsumsi perorangan. Panitia penanggung jawab akan menarik nominal tertentu di akhir acara, dan sisa uang yang terkumpul biasanya dialokasikan untuk acara berikutnya.4
Perkirakan iuran standar di izakaya berkisar antara 3.000 hingga 5.000 yen per orang (per halaman 4 Maret 2026; konfirmasikan nominal terkini pada Japan Living Life).3 Acara akhir tahun atau perayaan khusus dapat menelan biaya lebih tinggi. Malam perayaan kerap berlanjut ke putaran nijikai dan sanjikai dengan perhitungan biaya terpisah, dan pamit pulang untuk tidak mengikuti pesta lanjutan dengan alasan yang sopan sangat lazim dan dapat diterima sepenuhnya.4
Tekanan untuk minum memiliki sebutan dan batasan hukum
Memaksa rekan kerja untuk hadir, menuang minuman, atau mengonsumsi alkohol kini dikategorikan secara luas sebagai ノミハラ (nomi-hara, "pelecehan nomikai").3 Istilah payung hukum yang lebih luas adalah アルハラ (aru-hara, "pelecehan alkohol").5
Mereka yang tidak meminum alkohol tetap dapat berpartisipasi penuh: ikutilah seruan kanpai dengan teh atau jus, biarkan gelas terisi setengah penuh untuk menandakan minuman Anda masih cukup, dan tolaklah tawaran isi ulang dengan santun.3 Jika tekanan terus berlanjut hingga membentuk pola intimidasi, perlakukan hal tersebut sebagai masalah lingkungan kerja yang perlu dilaporkan, bukan sebagai kegagalan berbaur secara sosial.
Lihat juga
- Menjalin pertemanan dengan orang Jepang sebagai warga negara asing
- Hobi dan lingkaran komunitas di Jepang
- Penyusutan budaya minum sepulang kerja (Nomikai)
- Integrasi jangka panjang di Jepang: Kesabaran dan titik pencapaian 5 tahun
- Hierarki, bahasa penghormatan, dan konvensi penamaan di Jepang