Lewati ke konten utama

Diriset dan diperiksa faktanya melalui proses editorial J-Compass; tim editorial kami meninjau sumber dan akurasi sebelum diterbitkan. Lihat metodologi kami →
Terjemahan ini disediakan sebagai referensi untuk kemudahan Anda. Versi bahasa Inggris adalah versi yang berlaku. Baca versi asli bahasa Inggris →

Shinto dan Buddha sebagai praktik, bukan sekadar keyakinan

Shinto dan Buddha sebagai praktik, bukan sekadar keyakinan, menggambarkan bagaimana sebagian besar penduduk Jepang berpartisipasi dalam ritual kuil Shinto (jinja) dan kuil Buddha (otera) tanpa mendefinisikan diri mereka sebagai orang yang beragama.123 Bagi penduduk asing, memahami pola ini sangat penting karena undangan untuk kunjungan tahun baru, festival matsuri, upacara berkah anak, pernikahan, hingga pemakaman akan hadir cukup sering dalam kehidupan sosial.

Konfirmasikan perincian terbaru dengan sumber resmi

Praktik kebiasaan, data survei, dan norma umum dapat berkembang. Konfirmasikan perincian terbaru di situs Asosiasi Kuil Shinto (Jinja Honcho) dan survei keagamaan Asia Timur Pew Research Center, yang menjadi rujukan data survei dan prosedural utama artikel ini.

Gambaran umum​

Sebagian besar masyarakat Jepang menggambarkan diri mereka tidak beragama, namun tetap berbondong-bondong mengunjungi kuil Shinto saat Tahun Baru, menghormati arwah leluhur pada masa Obon, menyambut kelahiran anak di kuil Shinto, dan menggelar upacara kematian di kuil Buddha.13 Keikutsertaan ini digerakkan oleh momentum peristiwa atau tradisi, bukan oleh keanggotaan institusi keagamaan. Tidak ada ritual pembaptisan/pengesahan formal, kewajiban ibadah mingguan, atau asas keanggotaan eksklusif yang membatasi pola ini.24

Adat kebiasaan ini berlangsung seragam di seluruh negeri tanpa memandang kewarganegaraan atau status visa. Perbedaan yang ada hanyalah variasi kebiasaan keluarga dan tradisi kuil setempat, bukan prosedur pemerintahan daerah. Artikel ini menguraikan pola tersebut, memetakan pembagian peran antara Shinto dan Buddha, serta menyajikan panduan etika berkunjung yang dapat langsung diterapkan oleh warga asing.

Pola tidak beragama namun tetap berpartisipasi​

Survei sosiologis berulang kali menemukan paradoks yang serupa. Sebagian besar responden menyatakan tidak memiliki keyakinan agama tertentu, namun populasi yang sama menopang puluhan ribu kuil Shinto dan Buddha serta memadati area kuil setiap Tahun Baru dan musim festival.12 Paradoks ini dapat dipahami begitu aspek afiliasi, keyakinan doktrinal, dan praktik ritual diukur secara terpisah.3

Survei dan data afiliasi ganda​

Sekitar 70 persen penduduk di Jepang mengekspresikan sikap non-religius dalam survei umum. Survei Yayasan Perdamaian Niwano tahun 2019 mendapati bahwa sebagian besar responden tidak mengikuti kegiatan keagamaan secara rutin baru-baru ini dan lebih dari 70 persen menyatakan tidak memiliki keyakinan agama tertentu.1

Gelombang survei World Values Survey tahun 2010 hingga 2014 mencatat 87,1 persen responden Jepang bukan anggota organisasi keagamaan mana pun dan hanya 20,9 persen yang mendefinisikan diri mereka religius.2 Survei representatif nasional tahun 2024 terhadap lebih dari 4.000 responden mendapati lebih dari 40 persen menggambarkan diri mereka non-religius atau ateis, padahal banyak di antara responden yang sama rutin berziarah ke kuil dan menyelenggarakan ritual penghormatan leluhur.3

Data kelembagaan menunjukkan sisi lain dari koin yang sama. Statistik Badan Urusan Kebudayaan tahun 2022 mencatat jumlah penganut terdaftar secara kumulatif mencapai sekitar 180 juta jiwa dari total populasi sekitar 126 juta jiwa.1

Selisih ini mencerminkan pencatatan ganda penganut Shinto dan Buddha, bukan pelipatgandaan jumlah warga. Umat Kristen menyumbang sekitar 1 persen dari total penganut tersebut.1

Kategori dataAngkaSumber
Kuil Shinto (jinja)Sekitar 81.097Buku Tahunan Statistik via literatur sekunder2
Kuil Buddha (otera)Sekitar 75.922Buku Tahunan Statistik via literatur sekunder2
Gabungan kuil Shinto dan BuddhaSekitar 160.000 lokasiStatistik pemerintah via laporan AP1
Jumlah penganut Shinto tercatatSekitar 72 persen (perhitungan tumpang tindih)Buku Tahunan Statistik via literatur sekunder2
Jumlah penganut Buddha tercatatSekitar 68 persen (perhitungan tumpang tindih)Buku Tahunan Statistik via literatur sekunder2

Survei Pew Research Center tahun 2024 menambahkan rincian sisi praktiknya. Di antara umat Buddha Jepang, 44 persen beroda atau memberikan penghormatan kepada kami (dewata Shinto), begitu pula 25 persen orang dewasa yang mengaku tidak berafiliasi dengan agama apa pun. Sekitar sepertiga atau lebih orang dewasa tanpa afiliasi agama di Jepang tetap mengunjungi kuil Shinto secara berkala.5 Sekitar separuh orang dewasa di Jepang memiliki altar persembahyangan di rumah mereka.5

Perhitungan tumpang tindih menjelaskan total yang melampaui jumlah penduduk

Angka afiliasi kelembagaan menghitung hubungan ala jemaat atau ikatan keluarga per kuil Shinto dan Buddha, sehingga satu rumah tangga dapat terhitung dua kali. Sebaliknya, survei identifikasi diri menghitung individu satu kali saja. Kedua deret data ini mengukur hal yang berbeda.

Praktik tanpa keanggotaan​

Dalam tradisi Shinto rakyat tidak dikenal ritual inisiasi resmi yang setara dengan pembaptisan. Perkiraan penganut formal sering kali hanya menghitung anggota sekte terorganisasi, itulah sebabnya survei identifikasi diri sebagai penganut Shinto hanya berkisar sekitar 3 persen sementara angka kunjungan warga ke kuil jauh lebih tinggi.4

Kata 宗教 (shūkyō, "agama") itu sendiri cenderung menimbulkan penolakan dalam survei. Bagi banyak orang Jepang, kata tersebut membangkitkan citra organisasi keagamaan tertutup, eksklusif, atau kegiatan penyebaran ajaran (proselytizing), bukan kunjungan tradisi ke kuil atau perawatan makam leluhur.3 Sikap kehati-hatian terhadap organisasi keagamaan makin menguat pascatragedi serangan gas sarin Aum Shinrikyo tahun 1995 dan pengawasan ketat terhadap bekas Gereja Unifikasi di masa belakangan, sementara kuil Shinto dan Buddha tetap mempertahankan keakraban budayanya dalam kehidupan sehari-hari.13

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai kepemilikan berlapis (layered belonging). Masyarakat merasa dekat dengan tradisi Buddha dan Shinto secara serentak tanpa merasa adanya pertentangan batin.3 Teori Reader dan Tanabe membedah logika ini sebagai 現世利益 (genze riyaku, "manfaat duniawi nyata"): kunjungan kuil, jimat pelindung, dan doa yang ditujukan demi kesehatan, kesuksesan ujian sekolah, kelancaran bisnis, serta keselamatan berkendara berada di pusat praktik keagamaan, bukan di pinggirannya.2

Shinto untuk peristiwa kehidupan, Buddha untuk peristiwa kematian​

Kedua tradisi ini membagi perjalanan hidup manusia secara praktis. Shinto menaungi awal kehidupan, perayaan, dan kemakmuran, sementara Buddhisme mengurus perpisahan akhir dan peringatan arwah leluhur.23

Keluarga berpindah di antara kedua ranah tradisi ini secara luwes dan alami.23

Shinto: kelahiran, pertumbuhan, tahun baru, kemakmuran​

Shinto berpusat pada tindakan ritual. Praktik upacara, penyucian diri (purification), dan hubungan dengan 神 (kami, "dewata atau roh alam") memiliki bobot lebih besar daripada kepatuhan pada dogma tertulis.4 Kami mencakup fenomena alam, bentang alam, kekuatan kehidupan, hingga roh leluhur yang dimuliakan.24

Perjalanan hidup seseorang dari kacamata Shinto berlangsung di 神社 (jinja, "kuil Shinto"). Bayi yang baru lahir menerima doa berkah pertama sekitar usia satu bulan dalam upacara お宮参り (omiyamairi, "kunjungan kuil pertama").2 Anak-anak berusia tiga, lima, dan tujuh tahun mengenakan pakaian tradisional terbaik mereka dan mengunjungi kuil di sekitar tanggal 15 November untuk perayaan 七五三 (shichi-go-san, "tujuh-lima-tiga").13

Ketika dewasa, mereka kembali mengunjungi kuil untuk hatsumode, pernikahan, doa kelulusan ujian di kuil Tenjin, ritual pembawa berkah usaha, dan pemberkatan keselamatan berkendara. Jimat dan penangkal untuk masing-masing tujuan adalah hal yang lumrah, bukan sekadar pelengkap.12 Shinto tidak memiliki tokoh pendiri tunggal, tidak memiliki satu kitab suci kanonik, dan tidak memiliki doktrin akhirat yang kaku. Penerusan tradisi berlangsung melalui pemeliharaan ritual dan kalender daur hidup manusia.4

Buddha: pemakaman, upacara peringatan, leluhur​

Buddhisme di Jepang paling tampak nyata dalam upacara pemakaman, tradisi mudik Obon pertengahan Agustus, ziarah makam, dan pembakaran dupa peringatan di altar rumah.13 Survei Asosiasi Konsumen Jepang mencatat 90,1 persen prosesi pemakaman di Jepang diselenggarakan dengan tata cara Buddha, berbanding 3,4 persen secara Shinto dan 2,4 persen tanpa upacara keagamaan.6

Kremasi dilakukan secara hampir universal. Sekitar 99 persen pemakaman melibatkan kremasi jenazah.6 Pew mendapati bahwa 92 persen keluarga memadukan kremasi dan penguburan, yang berarti kremasi dilanjutkan dengan persemayaman abu jenazah, dengan 92 persen keluarga yang mengkremasi menyimpan abu di tempat yang permanen seperti altar rumah, kuil Buddha, atau kompleks makam keluarga.7

Penghormatan terhadap arwah leluhur merupakan rutinitas keluarga. Sekitar 8 dari 10 orang di Jepang menyalakan dupa untuk leluhur sepanjang tahun lalu.7 Lebih dari 8 dari 10 orang dewasa memiliki makam keluarga, sekitar 7 dari 10 orang mengunjunginya setidaknya setahun sekali, dan sekitar 7 dari 10 orang menyatakan kepatuhan pada tata cara pemakaman tradisional adalah hal penting saat merencanakan pemakaman kerabat dekat.7

Banyak rumah tangga memiliki 仏壇 (butsudan, "altar Buddha di rumah untuk upacara peringatan arwah") sekaligus 神棚 (kamidana, "rak pemujaan Shinto untuk memohon berkah") tanpa memandangnya sebagai pertentangan.2 Ketika terjadi kedukaan, rak pemujaan Shinto biasanya ditutup dengan kertas putih dalam tradisi 神棚封じ (kamidana-fūji, "penutupan rak kamidana selama masa berkabung").4 Ikatan keluarga dengan kuil Buddha tertentu untuk urusan pemakaman dan doa arwah disebut 檀家 (danka, "keluarga jemaat kuil"), meskipun kekuatan ikatan ini beragam tergantung riwayat keluarga.4

Mengapa percampuran ini dianggap wajar​

Lembaga keagamaan Shinto dan Buddha berbaur selama lebih dari seribu tahun dalam sinkretisme 神仏習合 (shinbutsu-shūgō, "sinkretisme kami dan buddha") sebelum kebijakan pemisahan pada zaman Meiji menarik garis kelembagaan yang lebih tegas. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat tetap mempraktikkannya secara menyatu.34 Konstitusi pascaperang menjamin kebebasan beragama dan pemisahan urusan agama dengan negara, yang menghapuskan kewajiban mengikuti ritual kenegaraan.4

Sosiolog Ian Reader merangkum pembagian kerja fungsional ini: Shinto untuk awal kehidupan dan perayaan musiman, Buddha untuk urusan kematian dan upacara arwah, ditambah Kristen dengan proporsi penganut 1 hingga 2 persen yang dalam persepsi publik sering diasosiasikan dengan pesta pernikahan ala gereja/kapel.2 Seseorang dapat menerima pemberkatan Shinto saat baru lahir, menikah di kapel bergaya Barat, dan dimakamkan dengan tata cara Buddha. Setiap tahapan dipandang wajar dan tidak kontradiktif.23

Perayaan Natal memperlihatkan selektivitas kultural yang serupa. Natal dirayakan sebagai momen romantis dan komersial sekuler dengan tradisi bertukar kado, dekorasi lampu iluminasi, dan kebiasaan menyantap ayam goreng, alih-alih sebagai puncak hari raya keagamaan akhir tahun.1 Puncak keagamaan akhir tahun yang sesungguhnya di Jepang adalah dentang lonceng kuil Buddha malam tahun baru dan ziarah hatsumode di awal tahun.

Bentuk partisipasi sepanjang tahun​

Seorang penduduk asing biasanya bersinggungan dengan pola tradisi ini dalam tiga irama: Tahun Baru, kalender festival matsuri, dan undangan pribadi untuk momen penting kehidupan. Masing-masing memiliki tata cara lahiriah yang teratur namun sangat memaklumi pendatang baru.

Kunjungan tahun baru dan musiman​

Pekan terakhir akhir tahun memadukan hadiah Natal, dentang lonceng kuil Buddha pada malam pergantian tahun dalam tradisi 除夜の鐘 (joya no kane, "lonceng malam pergantian tahun"), lalu kunjungan ziarah perdana antara tanggal 1 hingga 3 Januari dalam upacara 初詣 (hatsumōde, "kunjungan kuil pertama di awal tahun").1 Baik kuil Shinto maupun kuil Buddha dapat dipilih untuk hatsumode. Tempat-tempat ziarah terkenal dipadati lautan manusia selama tiga hari pertama, sedangkan kuil kecil di lingkungan permukiman lebih tenang dan sama absahnya.14

Di kuil Shinto, tata cara berdoanya sudah baku. Membungkuklah sedikit saat melintasi 鳥居 (torii, "gerbang kuil"), bersihkan tangan dan mulut di 手水舎 (temizuya, "paviliun air penyucian"), masukkan koin persembahan ke kotak koin, bunyikan lonceng jika tersedia, bungkukkan badan dalam-dalam dua kali, tepuk tangan dua kali dengan kedua telapak tangan merapat, panjatkan doa dalam hati, lalu akhiri dengan membungkuk dalam-dalam satu kali.8

Pemberian koin lebih bersifat adat ketimbang keharusan nominal tertentu. Koin yang umum digunakan adalah 5 yen (karena pelafalannya go-en bermakna jodoh/nasib baik) atau 100 yen. Ramalan nasib tertulis dalam lembaran おみくじ (omikuji, "ramalan peruntungan tertulis") dan jimat pelindung dibeli untuk dibawa pulang demi perlindungan setahun penuh.3 Sementara itu di kuil Buddha, cara berdoanya adalah dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan dada dalam keheningan tanpa bertepuk tangan, didahului pembasuhan air dan terkadang mengasapi tubuh dengan asap pembakar dupa.4

Festival dan ritual komunitas​

Sebagian besar perayaan 祭り (matsuri, "festival kuil Shinto atau Buddha") diselenggarakan di pelataran kuil dengan melibatkan para pendeta dan relawan warga, yang memadukan unsur ritual penyucian dan pengabdian spiritual.2 Festival besar di kota metropolitan menarik jutaan pengunjung, sedangkan matsuri di desa menjadi pengikat kalender kegiatan masyarakat. Arak-arakan kuil portabel 神輿 (mikoshi, "kuil tandu portabel") diusung mengelilingi jalan-jalan permukiman oleh warga rukun tetangga setempat.1

Keikutsertaan tidak memerlukan pengetahuan doktrin agama yang mendalam. Sangat sedikit peserta pawai yang dapat menyebutkan nama dewata yang dipuja di tandu tersebut, dan ketidaktahuan ini dipandang sebagai kewajaran kultural, bukan kekurangan dalam berpartisipasi.2

Tonggak penting kehidupan yang mungkin Anda hadiri​

Upacara doa kelahiran dan pertumbuhan anak, pesta pernikahan bergaya Shinto, kapel, maupun sipil, serta prosesi pemakaman dan persemayaman adalah peristiwa sosial utama yang kerap dihadiri oleh warga asing.12 Penggunaan amplop uang persembahan (shugi-bukuro atau koden-bukuro), aturan busana formal, dan tata krama di ruang resepsi atau rumah duka adalah hal-hal yang paling rentan kesalahan. Rincian mengenai hal-hal tersebut dibahas secara mendalam dalam panduan khusus tentang etika pernikahan, etika pemakaman, upacara tonggak perkembangan anak, dan kunjungan Tahun Baru.

Menjadi tamu: hal yang perlu diketahui penduduk asing​

Undangan menghadiri ritual hadir sebagai bentuk kehangatan bertetangga dan keterbukaan komunitas, bukan sebagai ujian keimanan pribadi. Tuan rumah memahami bahwa tamu asing mungkin belum terbiasa, sehingga mereka cukup berharap Anda memperhatikan sekali, meniru gerakan yang ada, atau bertanya kepada orang di samping Anda jika ragu. Keimanan Anda tidak akan pernah diinterogasi di depan pintu gerbang.

Keyakinan doktrinal tidak diharuskan maupun lazim​

Berpartisipasi tanpa memiliki keyakinan iman adalah norma sosial yang berlaku di Jepang. Warga setempat menggambarkan kunjungan ke kuil sebagai kebiasaan turun-temurun, penghormatan kepada keluarga, atau momen perenungan, bukan pengakuan iman doktrinal.3 Perbedaan mazhab atau aliran tidak menghalangi seseorang untuk berkunjung. Mengoleksi cap stempel kuil atau membeli jimat di berbagai tempat ibadah yang berlainan adalah hal yang sangat lumrah.1

Kekhawatiran mengenai perampasan budaya (cultural appropriation) yang sering dirasakan oleh sebagian ekspatriat Barat bukanlah hal yang menjadi kekhawatiran warga lokal di Jepang. Keterlibatan yang luwes dan partisipasi yang selektif justru disambut baik dan dianggap wajar oleh masyarakat setempat.23

Etika dasar yang penting​

Perlakukan seluruh kawasan pelataran kuil sebagai tempat yang sakral dan dihormati. Hindari berdiri menghalangi tepat di depan pintu ruang persemayaman doa atau duduk-duduk di anak tangganya, jangan memasuki bangunan utama atau area bertali pembatas tanpa izin, dan utamakan memberikan penghormatan terlebih dahulu sebelum berkeliling mengambil foto.8

Urutan ritual pembasuhan di temizuya sangat bermanfaat untuk diingat. Basuh tangan kiri, lalu tangan kanan, lalu tuang air ke telapak tangan kiri yang ditangkupkan untuk berkumur tanpa menyentuhkan gayung langsung ke bibir. Buang air kumur ke saluran samping paviliun air, basuh kembali tangan kiri, lalu tegakkan gayung agar sisa air membilas tangkainya sebelum dikembalikan ke tempat semula.8

Perlakukan jimat sebagai benda sakral, bukan sekadar suvenir

お守り (omamori, "jimat pelindung") melambangkan berkah kekuatan kami dalam ajaran kuil Shinto, jadi bawalah selalu bersama Anda atau hadiahkan kepada kerabat dekat alih-alih memperlakukannya seperti cinderamata komersial biasa.8

Di tempat ibadah Buddha, letakkan dupa serta sajian makanan atau bunga di tempat yang telah ditentukan jika diarahkan, kemudian bungkukkan badan dengan merapatkan kedua telapak tangan di dada.7 Larangan memotret di dalam aula utama sangat umum berlaku, jadi selalu pastikan rambu atau petunjuk visual sebelum memotret interior kuil.4

Sekilas perbedaan kuil Shinto dan kuil Buddha​

Ciri khasKuil Shinto (jinja)Kuil Buddha (otera)
TradisiShintoBuddha
Istilah bangunan神社 (jinja, "kuil Shinto")お寺 (otera, "kuil Buddha")
Penanda pintu masukGerbang torii kayu/batuGerbang beratap (sanmon), pagoda, tempat dupa besar
Sosok pelayan ritual神主 (kannushi, "pendeta Shinto") bersama 巫女 (miko, "pelayan wanita kuil")Biksu Buddha (osho / so)
Tata cara berdoaDua kali bungkuk, dua kali tepuk tangan, satu kali bungkuk8Tangan merapat di dada dalam hening, tanpa tepuk tangan4
Acara yang umumKelahiran, pertumbuhan anak, Tahun Baru, doa kemakmuran2Pemakaman, doa arwah, ziarah Obon1

Nama akhiran tempat ibadah memudahkan pengenalan. Kuil Shinto biasanya berakhiran -jinja, -jingu, -taisha, atau -gu. Kuil Buddha berakhiran -ji, -dera, atau -in.4 Buku catatan ziarah menggunakan stempel kaligrafi 御朱印 (goshuin, "stempel kaligrafi bukti kunjungan kuil"), yang dapat diperoleh dengan membayar biaya tanda terima di kedua jenis kuil tersebut.1

Informasi penting​

Memperlakukan goshuin dan omamori hanya sebagai suvenir​

Pengumpulan buku cap stempel goshuin dari luar tampak menyerupai hobi wisata. Kunjungan kuil mingguan oleh Momo Nomura untuk mengumpulkan cap, yang banyak diliput media pada tahun 2023, memaknai kegiatan tersebut sebagai sarana refleksi diri dan apresiasi seni ketimbang kepatuhan doktrin.1 Namun bagi pengelola kuil, lembaran stempel tersebut tetap dipandang sebagai jalinan ikatan spiritual dengan dewata.81 Kedua pemaknaan ini hidup berdampingan. Sebagai tamu, tunjukkan penghormatan terhadap sisi sakralnya melalui perilaku santun: terima buku stempel dengan kedua belah tangan, simpan dengan rapi, dan hindari menawar harga atau membicarakan penjualan kembali di depan loket kuil.81

Memotret ritual dan upacara pribadi​

Area pelataran luar kuil umumnya boleh difoto, tetapi bagian dalam ruangan doa utama (honden atau hondo) hampir selalu melarang fotografi, dan prosesi pernikahan tertutup, upacara pemakaman, atau kebaktian arwah keluarga yang sedang berlangsung tidak boleh menjadi objek pemotretan.4 Aturan berbeda di setiap kuil, sehingga ikuti rambu tertulis dan arahan petugas kuil pada hari kunjungan. Menyingkir dari bagian depan kotak doa saat pengunjung lain sedang berdoa dapat menghindarkan gangguan yang paling sering dikeluhkan para jemaat.8

Koin persembahan dan etika altar di rumah​

Di dalam rumah warga yang memiliki kedua jenis altar, ikutilah arahan tuan rumah. Berikan penghormatan dengan membungkuk sopan di depan altar, jangan sembarangan membuka pintu altar yang tertutup atau memegang papan nama arwah (ihai) dan sesaji persembahan, serta letakkan koin secara perlahan dan hening jika dipersilakan.2 Tidak ada izin pemerintah daerah atau ketentuan mazhab kaku yang membatasi kehadiran tamu. Adat istiadat keluarga dan etika tempat ibadahlah yang menjadi pegangan utama, sehingga keluarga tuan rumah atau pengurus kuil yang berhak memandu apa yang sebaiknya dilakukan pada hari itu.8

Lihat pula​

References​

Footnotes​

  1. Associated Press. The Nones: Japan. Mari Yamaguchi. Published 2023-10-05. https://projects.apnews.com/features/2023/the-nones/the-nones-japan.html ↩ ↩2 ↩3 ↩4 ↩5 ↩6 ↩7 ↩8 ↩9 ↩10 ↩11 ↩12 ↩13 ↩14 ↩15 ↩16 ↩17 ↩18 ↩19 ↩20 ↩21 ↩22

  2. Aeon. Religion without belief. Christopher Kavanagh. Published 2016-09-15. https://aeon.co/essays/can-religion-be-based-on-ritual-practice-without-belief ↩ ↩2 ↩3 ↩4 ↩5 ↩6 ↩7 ↩8 ↩9 ↩10 ↩11 ↩12 ↩13 ↩14 ↩15 ↩16 ↩17 ↩18 ↩19 ↩20 ↩21 ↩22 ↩23

  3. Ukiyo Journal. Are Japanese People Really Non-Religious? New Research Reveals Overlapping Beliefs. Published 2026-05-09. https://www.ukiyo-journal.com/en/article/why-japanese-visit-shrines-and-temples ↩ ↩2 ↩3 ↩4 ↩5 ↩6 ↩7 ↩8 ↩9 ↩10 ↩11 ↩12 ↩13 ↩14 ↩15 ↩16

  4. Wikipedia. Religion in Japan. Accessed 2026-09-08. https://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_Japan ↩ ↩2 ↩3 ↩4 ↩5 ↩6 ↩7 ↩8 ↩9 ↩10 ↩11 ↩12 ↩13 ↩14 ↩15

  5. Pew Research Center. Religion and Spirituality in East Asian Societies, Ch. 4 Practices. Jonathan Evans et al. Published 2024-06-17. https://www.pewresearch.org/religion/2024/06/17/practices/ ↩ ↩2

  6. Nippon.com. Funerals in Japan. Published 2015-07-05. https://www.nippon.com/en/features/jg00039/ ↩ ↩2

  7. Pew Research Center. Religion and Spirituality in East Asian Societies, Ch. 5 Ancestor veneration, funerals and afterlife beliefs. Jonathan Evans et al. Published 2024-06-17. https://www.pewresearch.org/religion/2024/06/17/ancestor-veneration-funerals-and-afterlife-beliefs/ ↩ ↩2 ↩3 ↩4

  8. Jinja Honcho (Association of Shinto Shrines). Entering a Jinja. https://www.jinjahoncho.or.jp/en/shrines/index2.html ↩ ↩2 ↩3 ↩4 ↩5 ↩6 ↩7 ↩8 ↩9