Lewati ke konten utama

Diriset dan diperiksa faktanya melalui proses editorial J-Compass; tim editorial kami meninjau sumber dan akurasi sebelum diterbitkan. Lihat metodologi kami →
Terjemahan ini disediakan sebagai referensi untuk kemudahan Anda. Versi bahasa Inggris adalah versi yang berlaku. Baca versi asli bahasa Inggris →

Tahun Baru (Oshogatsu) dan ziarah hatsumode

Hatsumode di Jepang bermula dari sebuah tindakan sederhana: kunjungan pertama ke kuil Shinto atau kuil Buddha pada tahun yang baru, dilakukan untuk mengucap syukur kepada para dewa atas perlindungan tahun lalu serta memohon kesehatan dan keberuntungan untuk tahun mendatang.12 Bagi penduduk, tradisi ini merupakan ritual kalender yang paling mudah diakses, menyambut hangat siapa saja termasuk pemula yang belum pernah berdoa di kuil sebelumnya.

Konfirmasikan rincian terkini dengan sumber resmi

Prosedur, biaya, dan ketentuan dapat berubah sewaktu-waktu. Konfirmasikan rincian terkini di situs web Asosiasi Kuil Shinto Tokyo (Tokyo Jinjacho) dan laman resmi kuil Shinto atau Buddha yang hendak Anda kunjungi.

Gambaran umum​

初詣 (hatsumode, "kunjungan pertama ke kuil pada tahun baru") adalah inti perayaan dari お正月 (oshogatsu, "periode Tahun Baru").1 Mayoritas warga datang berziarah selama 三が日 (sanganichi, "tiga hari pertama bulan Januari"), sedangkan periode pajangan dekorasi perayaan berlangsung lebih panjang sepanjang matsu-no-uchi.2

Ini adalah tradisi kultural, bukan kewajiban agama yang kaku. Pelaksanaannya terbuka sama bagi penduduk warga negara Jepang maupun warga negara asing, tanpa adanya ujian keyakinan di pintu masuk kuil.23 Artikel ini mengulas tata cara kunjungan, perlengkapan awal tahun, serta tradisi rumah tangga di seputarnya.

Waktu dan lokasi kunjungan​

Waktu kedatangan sangat menentukan pengalaman ziarah Anda. Pilihlah dengan sadar antara kemeriahan festival di kuil-kuil tersohor atau ketenangan berziarah di kuil lingkungan setempat.

Puncak sanganichi dan jendela matsu-no-uchi​

Periode standar hatsumode adalah 1 hingga 3 Januari yang dikenal dengan sebutan sanganichi.2 Pengunjung yang berhalangan hadir pada hari-hari tersebut biasanya berziarah selama masa matsu-no-uchi, yaitu periode ketika hiasan Tahun Baru masih terpasang di rumah dan jalanan.2

Masa matsu-no-uchi berlangsung hingga 7 Januari di wilayah Kanto dan hingga 15 Januari di wilayah Kansai.2 Perbedaan wilayah ini penting diperhatikan bagi yang berziarah terlambat. Kunjungan pada tanggal 10 Januari masih dianggap sebagai hatsumode di Osaka, tetapi sudah melewati jendela tradisi di Tokyo.

Puncak kepadatan terjadi mulai sekitar pukul 23.00 pada tanggal 31 Desember hingga siang hari pada 1 Januari (per September 2026; periksa informasi kepadatan terkini dari kuil yang hendak Anda kunjungi).2 Pagi-pagi sekali pada 1 Januari sekitar pukul 06.00 hingga 08.00, atau kapan pun mulai tanggal 4 Januari ke atas cenderung jauh lebih tenang (per September 2026).2

Di kuil-kuil besar, waktu antre selama 1 hingga 2 jam untuk mencapai balai doa adalah hal yang lazim (per September 2026).2 Beberapa panduan bahkan melaporkan antrean mencapai 2 hingga 4 jam di lokasi paling terkenal pada tanggal 1 Januari (per September 2025).4

Kenakan pakaian hangat untuk antrean musim dingin di luar ruangan

Malam hari di bulan Januari terasa sangat dingin dan sebagian besar waktu menunggu dihabiskan di area terbuka. Kenakan pakaian musim dingin berlapis, sarung tangan, sepatu hangat, dan bawalah minuman hangat untuk menemani Anda selama mengantre.2

Kuil terkenal versus kuil lingkungan setempat​

Kuil Meiji Jingu di Tokyo menerima sekitar 3 juta peziarah sepanjang periode Tahun Baru (per Januari 2024; konfirmasikan panduan pengunjung terkini dengan pihak kuil).1 Kuil Sensoji di Asakusa dikunjungi sekitar 2,8 juta orang, Fushimi Inari sekitar 2,7 juta orang, dan Naritasan Shinshoji sekitar 3 juta orang (per Januari 2024).1

Kuil lingkungan yang lebih kecil, yang dikenal sebagai ujigami setempat, menawarkan pengalaman ziarah yang jauh lebih lancar bahkan selama periode sanganichi, dengan makna keberkahan yang sama nilainya.2

Tata cara ziarah hatsumode​

Hatsumode dapat dilakukan di kuil Shinto (jinja) maupun kuil Buddha (tera), di mana kedua tradisi ini saling berbagi momen Tahun Baru tanpa menuntut dogma keyakinan dari para pesertanya.15 Tempat yang dikunjungi menentukan tata cara berdoanya. Diagram alur di bawah ini menyajikan tahapan praktis agar pembaca dapat mengikutinya dengan mudah tanpa perlu menghafal secara rumit. Untuk latar belakang filosofis di balik praktik bersama ini, lihat Ajaran Shinto dan Buddha sebagai praktik, bukan sekadar keyakinan.

Di kuil Shinto (jinja)​

Membungkuklah sedikit dengan takzim sebelum melangkah melewati gerbang torii.2 Berjalanlah di sisi kanan atau kiri jalur jalan setapak (sando), karena bagian tengah jalan diyakini sebagai jalur perlintasan para dewa (kami).23

Di paviliun penyucian air (手水舎, temizuya), urutan pembersihan adalah: basuh tangan kiri, tangan kanan, lalu bilas mulut menggunakan air yang ditampung di telapak tangan kiri yang menengadah.23 Jangan pernah menempelkan mulut langsung pada gayung air. Akhiri dengan membasuh kembali tangan kiri dan memiringkan gagang gayung tegak lurus agar tersiram air pembersih, serta ikuti instruksi kebersihan di lokasi apabila metode penggunaan gayung ditiadakan.23

Di depan balai utama doa (haiden), tata cara bakunya adalah 二拝二拍手一拝 (ni-hai ni-hakushu ip-pai, "dua kali membungkuk, dua kali bertepuk tangan, satu kali membungkuk").2 Bungkukkan badan dalam-dalam dua kali, tepuk tangan dua kali setinggi dada dengan posisi tangan kanan sedikit digeser ke bawah tangan kiri, panjatkan doa dalam hening dengan kedua telapak tangan terkatup rapat, lalu akhiri dengan satu kali membungkuk takzim dalam-dalam.23

Ketika hendak meninggalkan area kuil, berbaliklah menghadap kembali ke balai utama setelah melewati gerbang torii dan lakukan satu kali bungkukan perpisahan.3

Di kuil Buddha (tera)​

Di kuil Buddha, jangan bertepuk tangan.2 Rapatkan kedua telapak tangan dengan tenang di depan dada dalam posisi 合掌 (gassho), lalu bungkukkan badan dengan takzim sekali sebelum dan sekali sesudah memanjatkan doa.2

Apabila tersedia dupa persembahan, padamkan api pada batang dupa dengan mengibaskan tangan, jangan meniupnya dengan mulut.2 Letakkan dupa di tungku pembakaran, lalu berdoalah dengan posisi tangan gassho. Sebagian aula kuil mewajibkan peziarah melepas sepatu, jadi perhatikan papan petunjuk di pintu masuk sebelum melangkah ke dalam ruangan.2

Tirulah pengunjung di depan Anda saat merasa ragu

Tata cara dapat sedikit bervariasi bergantung pada kuil dan tradisi daerah setempat, sehingga wajar jika melihat beberapa orang melakukannya dengan sedikit berbeda. Mengamati barisan di depan Anda dan mengikuti petunjuk papan informasi di lokasi adalah cara paling tenang dalam berziarah.3

Koin persembahan dan doa​

Tidak ada nominal baku untuk koin persembahan 賽銭 (saisen, "uang persembahan yang dimasukkan ke kotak saisen").23 Masukkan atau jatuhkan koin secara perlahan ke dalam kotak persembahan, jangan melemparnya dengan kasar. Koin ini merupakan ungkapan rasa syukur tulus, bukan tiket masuk.

Koin bernilai 5 yen adalah pilihan paling klasik, karena lafalnya, go-en, berima sama dengan kata yang bermakna hubungan baik atau takdir keberuntungan.23 Koin 100 yen juga sangat umum digunakan sebagai sedekah persembahan. Siapkan koin di saku Anda sebelum bergabung dengan barisan agar antrean di belakang tetap mengalir lancar.2

Jika bingung apa yang harus didoakan, sampaikanlah secara sederhana. Banyak panduan menyarankan untuk mengutamakan ucapan terima kasih dan rasa hormat alih-alih merapal daftar permohonan yang panjang, serta biarkan doa Anda terucap dalam hati secara singkat.5

O-mikuji, o-mamori, dan ema​

Prosesi doa di depan balai utama berlangsung sangat singkat. Bagian yang biasanya menyita sisa waktu ziarah adalah loket pengambilan ramalan nasib dan pembelian jimat, yang semuanya bersifat opsional.3

Mengambil dan memperlakukan o-mikuji​

おみくじ (o-mikuji, "kertas ramalan nasib") memprediksi peruntungan dalam hal kesehatan, asmara, studi, dan karier.5 Penarikan ramalan umumnya dilakukan dengan mengocok tabung silinder berisi bilah bambu bernomor yang dicocokkan dengan laci kertas, kendati metodenya beragam di setiap kuil.52

Setelah membacanya, Anda dapat membawa pulang ramalan yang bermakna baik dan menyimpannya di dompet, atau mengikatkannya pada rak tali kawat atau dahan pohon yang telah ditentukan.52 Kertas ramalan yang bermakna buruk biasanya diikatkan pada rak tersebut sebagai simbol meninggalkan kesialan di kuil. Kertas yang dibawa pulang umumnya dikembalikan ke tempat penampungan jimat saat hatsumode tahun berikutnya.2

Membeli dan mengembalikan o-mamori​

お守り (o-mamori, "jimat pelindung kain") memiliki fungsi perlindungan khusus seperti keselamatan berkendara, kelulusan ujian, kesehatan, atau jodoh.5 絵馬 (ema, "plakat kayu doa") ditulisi harapan pribadi dan digantung di area kuil, sedangkan 御朱印 (goshuin, "stempel kaligrafi kuil") menjadi catatan bukti ziarah yang dibubuhkan pada buku khusus (goshuincho) setelah selesai berdoa.52

JenisBiayaPerCatatan
O-mamori atau emasekitar JPY 500–1.000Sep 20262Per buah di loket penjualan jimat
Goshuinsekitar JPY 300–500Sep 20262Ditulis tangan pada buku khusus ziarah

Biaya di atas mencerminkan kisaran umum hatsuhoryo (persembahan) di berbagai kuil Shinto dan Buddha (per September 2026; konfirmasikan biaya terkini dengan kuil bersangkutan).2 Loket layanan sangat padat selama masa sanganichi. Peziarah yang menginginkan kaligrafi goshuin yang ditulis langsung dengan kuas sebaiknya meluangkan waktu antre lebih panjang atau berkunjung setelah pertengahan Januari (per September 2026).2

Masa guna sebuah o-mamori dianggap berlaku selama kurang lebih satu tahun.5 Kembalikan jimat lama ke kuil penerbitnya untuk dibakar secara layak melalui upacara sakral, lalu belilah jimat baru saat hatsumode. Apabila kuil penerbit aslinya terlalu jauh, Anda dapat menyerahkannya ke kuil terdekat, atau memanfaatkan api unggun upacara Dondo-yaki sekitar tanggal 15 Januari saat dekorasi Tahun Baru dibakar bersama.2

Jimat lama dikembalikan ke kuil, bukan dibuang ke tempat sampah

Bawalah jimat pelindung dan panah penangkal bala (hamaya) tahun lalu ke loket penampungan jimat khusus (kosatsu-osamesho), jangan membuangnya ke tempat sampah rumah tangga. Petugas kuil akan mengurus pembakaran ritualnya secara hormat.52

Menjalani hatsumode sebagai warga negara asing​

Warga negara asing dan wisatawan internasional sangat diterima untuk berpartisipasi, dan sikap yang tenang serta penuh hormat jauh lebih diutamakan daripada kesempurnaan menghafal langkah-langkah ritual.23 Ikuti rambu-rambu petunjuk setempat, tiru gerakan peziarah di depan Anda, dan jagalah ketenangan suara di sekitar aula doa.

Kuil-kuil besar sering kali menyediakan papan informasi atau teks ramalan dalam bahasa Inggris, Mandarin, dan Korea, sehingga ada baiknya memeriksa jam operasional, aturan fotografi, area terlarang, serta ketersediaan panduan multibahasa terlebih dahulu.2 Mengambil foto di bagian dalam balai doa umumnya dilarang keras. Penggunaan tongsis (selfie stick) dan tripod dilarang di jalan yang padat karena mengganggu arus peziarah, dan hewan peliharaan terkadang dilarang masuk, jadi periksalah ketentuannya sebelum membawa peliharaan.2

Tidak ada survei resmi yang secara spesifik mencatat persentase partisipasi warga negara asing dalam hatsumode saat artikel ini disusun. Keterbukaan penerimaan yang dibahas di sini didasarkan pada panduan pengunjung dari berbagai sumber independen dan patut dipahami sebagai dorongan praktis yang ramah, bukan temuan data statistik kependudukan.423

Tradisi Oshogatsu terkait​

Hatsumode merupakan perayaan publik di luar rumah. Sisi domestik dari liburan Tahun Baru dinikmati di rumah bersama keluarga lewat hidangan khas, hadiah, dan siaran televisi akhir tahun.

Osechi ryori dan kumpul keluarga​

おせち料理 (osechi ryori, "hidangan Tahun Baru dalam kotak bertingkat") dinikmati di rumah bersama keluarga selama hari-hari pertama Januari.6 Tradisi ini telah ada sejak zaman Heian, dan setiap jenis makanan mengandung doa simbolis: udang (ebi) melambangkan umur panjang hingga punggung membungkuk, dan akar teratai (renkon) melambangkan masa depan cerah tanpa rintangan.6

Ozoni, sup kuah dashi berisi kue beras ketan (mochi) serta sayuran dan daging atau ikan khas daerah, disantap pada Hari Tahun Baru.6 Cara pengolahan dan bumbu sup berbeda-beda menurut tradisi keluarga dan daerah. Sebagian besar kantor dan toko tutup dari 1 hingga 3 Januari sementara keluarga berkumpul, dan ritual bebersih total akhir tahun yang disebut osouji dilakukan untuk menyambut kedatangan Toshigami, dewa pelindung Tahun Baru.6

Toshikoshi soba disantap pada malam tanggal 31 Desember yang dikenal sebagai omisoka.6 Bentuk mie soba yang panjang melambangkan umur panjang, dan sifat mie soba yang mudah putus saat digigit menyimbolkan tekad memutus segala kesulitan dan kemalangan di tahun yang lalu.

IstilahCara bacaArti
おせち料理osechi ryoriHidangan Tahun Baru dalam kotak bertingkat jubako6
お雑煮ozoniSup mochi yang disantap pada Hari Tahun Baru6
大掃除osoujiTradisi bebersih total akhir tahun6
年越しそばtoshikoshi sobaMie soba gandum yang disantap pada malam Tahun Baru6

Otoshidama dan siaran akhir tahun​

お年玉 (otoshidama, "hadiah uang tunai Tahun Baru untuk anak-anak") dibagikan kepada anak-anak dalam amplop kecil bermotif manis (pochibukuro).1 Program musik akhir tahun NHK Kohaku Uta Gassen ditonton jutaan keluarga pada malam 31 Desember, sementara kuil-kuil Buddha membunyikan genta 除夜の鐘 (joya no kane, "dentang genta kuil 108 kali pada malam Tahun Baru") melintasi pergantian tengah malam, di mana setiap dentangan dipercaya menghapus satu hawa nafsu keduniawian manusia.6

Pintu rumah dan pertokoan dihiasi hiasan bambu-pinus kadomatsu dan untaian tali jerami shimekazari sejak akhir Desember hingga sepanjang masa matsu-no-uchi.6 Kartu pos 年賀状 (nengajo, "kartu ucapan Tahun Baru") dikirim lewat pos untuk diantarkan serentak pada pagi 1 Januari, sebuah tradisi yang diulas tuntas dalam panduan Kartu ucapan akhir tahun (nengajo). Di sekitar kuil besar, deretan kios jajanan (yatai) menyajikan oden hangat, yakisoba, dan takoyaki, sementara toserba menggelar penjualan kantong misteri fukubukuro mulai 2 hingga 3 Januari.16

Hal yang perlu diketahui​

Datanglah lebih awal atau lebih lambat untuk menghindari antrean terpanjang​

Tengah malam menjelang 1 Januari hingga siang hari merupakan puncak kerumunan terpadat di kuil-kuil besar ternama.2 Pagi-pagi sekali sekitar pukul 06.00 hingga 08.00 pada tanggal 1 Januari, petang hari pada 2 dan 3 Januari, atau hari kerja mana pun mulai 4 Januari ke atas menawarkan suasana ziarah yang jauh lebih santai.2 Keluarga dengan anak kecil, lansia, atau mereka yang memiliki jadwal padat sebaiknya memilih kuil lokal di dekat rumah atau berkunjung setelah sanganichi daripada harus berdesakan dalam antrean terik siang 1 Januari.3

Siapkan uang koin dan saputangan sebelum mengantre​

Siapkan koin persembahan di kantong Anda terlebih dahulu agar barisan antrean di belakang Anda dapat terus berjalan lancar.2 Bawalah saputangan untuk mengeringkan tangan setelah bersuci di temizuya, sebuah kebutuhan sepele namun krusial di hari yang dingin yang kerap dilupakan oleh pengunjung baru.3 Pakaian santai yang rapi dan bersih sangat pantas digunakan; mengenakan kimono merupakan sentuhan perayaan yang indah, tetapi bukan suatu keharusan.3

Jimat lama harus dikembalikan ke kuil​

Jangan membuang o-mamori, panah hamaya, atau kertas ramalan o-mikuji yang sudah tidak terpakai ke tempat sampah rumah tangga.52 Kembalikan perlengkapan tersebut ke loket kuil penerbitnya atau kuil terdekat, atau serahkan pada upacara pembakaran sakral Dondo-yaki sekitar tanggal 15 Januari.2 Anggarkan biaya pembelian jimat pengganti baru setiap tahun sesuai standar yang disebutkan di atas, dan jadikan proses pengembalian jimat lama sebagai bagian tak terpisahkan dari rutinitas hatsumode Anda.

Lihat juga​

References​

Footnotes​

  1. Japan Experience. J.L., byline. "Hatsumode, the Japanese New Year tradition." Published 2024-01-17. https://www.japan-experience.com/preparer-voyage/savoir/comprendre-le-japon/hatsumode ↩ ↩2 ↩3 ↩4 ↩5 ↩6 ↩7

  2. JeePe Japan Travel Guide. "Hatsumode in Japan: First New Year Shrine Visit." Accessed 2026-09. https://www.jeepe.jp/en/articles/japan-hatsumode-guide-1725 ↩ ↩2 ↩3 ↩4 ↩5 ↩6 ↩7 ↩8 ↩9 ↩10 ↩11 ↩12 ↩13 ↩14 ↩15 ↩16 ↩17 ↩18 ↩19 ↩20 ↩21 ↩22 ↩23 ↩24 ↩25 ↩26 ↩27 ↩28 ↩29 ↩30 ↩31 ↩32 ↩33 ↩34 ↩35 ↩36 ↩37 ↩38 ↩39 ↩40 ↩41 ↩42 ↩43

  3. Hidden Japan Gems. Nobu (Nobutoshi), byline. "Hatsumode 2026: A Practical Guide to Japan's First Shrine Visit of the Year." Published 2025-12-26. https://hiddenjapan-gems.com/hatsumode-japans-first-shrine-visit-of-the-year/ ↩ ↩2 ↩3 ↩4 ↩5 ↩6 ↩7 ↩8 ↩9 ↩10 ↩11 ↩12 ↩13 ↩14 ↩15

  4. Japambience. "Hatsumode in Japan: A Complete Guide to Your First Shrine Visit of the New Year." Published 2025-09-09. https://japambience.com/article/hatsumode/ ↩ ↩2

  5. tsunagu Japan. Jack Xavier, byline. "Hatsumode: How to Celebrate the Japanese New Year in 2025/2026." Published 2020-12-23, last updated 2025-12-23. https://www.tsunagujapan.com/hatsumode-how-to-celebrate-the-japanese-new-year/ ↩ ↩2 ↩3 ↩4 ↩5 ↩6 ↩7 ↩8 ↩9 ↩10

  6. byFood. Georgie Morgan, byline. "Oshogatsu: Japanese New Year Traditions." Updated 2025-07-18. https://www.byfood.com/blog/culture/oshogatsu-japanese-new-year-traditions ↩ ↩2 ↩3 ↩4 ↩5 ↩6 ↩7 ↩8 ↩9 ↩10 ↩11 ↩12